15 49.0138 8.38624 1 1 4000 1 http://imagi.id 300 true

Menikmati Wisata Pantai di Cilacap (Bagian-2)

turis asing singgah di ujungalang

Dermaga Ujung Alang dengan latar belakang mangrove. Dermaga ini merupakan dermaga terdekat dari Cilacap di wilayah Kampung Laut

Wisata pantai Cilacap tak melulu melihat hamparan pasir dan laut biru. Memiliki Laguna Segara Anakan, Cilacap juga menawarkan pesona mangrove. Tidak sekedar  satu atau dua hektare, namun sangat luas. Membentang selepas pintu masuk pelabuhan Cilacap hingga Kecamatan Kampung Laut. Dan ini terus terlihat hingga  perbatasan Jawa Barat. Berikut Imagi menyajikan tentang pesona mangrove Cilacap. Pada edisi lain waktu kita buatkan ulasan khusus wisata Kampunglaut.

  1. Hamparan Mangrove Menuju Kampung Laut
Mangrove Kampung laut

Mangrove di sepanjang perairan menuju Kampung Laut. Banyak alur sungai ada beberapa rambu lalu lintas sungai yang terpasang

Kampung laut terletak di Laguna Segara Anakan. Ini merupakan wilayah perairan yang dikelilingi daratan. Di sebelah selatan ada Pulau Nusakambangan,  di timur dan utara dibatasi wilayah Cilacap dan di sebelah barat berbatasan dengan Jawa Barat.

Meski merupakan celah sempit namun sejatinya areanya  sangat luas. Ada tiga sungai besar yang yang bermuara di Laguna Segara Anakan. Masing-masing   Sungai Citanduy, Sungai Cibereum dan Sungai Cikonde. Segara Anakan juga menjadi jalur penghubung wisata dari Pantai Pengandaran menuju Cilacap. Sehingga  kerap ditemui wisatawan asing yang memilih transportasi air dari Pantai Pengandaran menuju Teluk Penyu Cilacap.

Berkunjung ke Kampung Laut melalui kota Cilacap bisa ditempuh dengan jalur air, melalui Dermaga Seleko. Di sini ada angkutan sungai dan laut yang melayani rute Klaces (Kota Kecamatan Kampung Laut)-Cilacap. Angkutan ini yang biasa mengangkut masyarakat Kampung Laut yang hendak bertransaksi ekonomi ke  Kota Cilacap. Bisa menjual hasil laut maupun belanja kebutuhan sehari-hari.

Menyusuri Kampung Laut harus menyediakan waktu ekstra. Sebab perjalanan menuju Kampung Laut membutuhkan waktu 90 menit menggunakan perahu fiber bermesin tempel. Dan membutuhkan waktu tempuh 3 jam jika menggunakan perahu ukuran yang lebih besar.   Alangkah baiknya pula jika meluangkan waktu  bermalam di Kampung Laut, sembari menikmati sejumlah destinasi wisata di sekitar Nusakambangan. Seperti Goa Masigit Sela, Goa Maria dan pantai pasir putih.

Namun jika hanya ingin menikmati panorama mangrove, waktu tempuh sehari sangat cukup. Berangkat pagi sebelum pukul 07.00 dan bisa balik dari Kampung  Laut sekitar pukul 13.00. Ini bisa berbarengan dengan jam PNS berangkat dan pulang kerja.

Atau jika waktunya lebih sempit lagi tidak perlu sampai ke Demaga  Klaces yang merupakan kota kecamatan Kampung Laut namun bisa sampai dermaga Ujung Alang lantas balik lagi ke dermaga Sleko. Ada empat desa di Kecamatan  Kampung Laut yaitu Ujung Alang yang terdekat dengan Cilacap, Panikel daerah kampung laut yang menempel pada daratan Cilacap, Klaces wilayah Kampung laut yang  menempel pada Nusakambangan dan Ujung Gagak pada alur sungai Citandui.

TURIS

Beberapa turis asing menggunakan moda transportasi air melalui Kampung Laut dari Pengandaran menuju Cilacap

Menyusuri Kampung Laut akan menikmati keindahan mangrove. Keanekaragaman hayati dan biota laut. Saat musim migrasi, bisa melihat sekawanan burung  camar maupun Kuntul yang hinggap di hutan mangrove.

Pada perjalanan menyusuri mangrove Kampung Laut ini juga bisa melihat aktivitas sehari-hari masyarakat di Kampung Laut. Ada yang mencari ikan,  kepiting bakau, kerang atau melihat lalu lalang perahu yang mengangkut masyarakat bertransaksi ekonomi antar desa di Kecamatan Kampung laut. Pulang dari  kampung laut bisa membeli oleh-oleh berupa kepiting bakau. Boleh pilih mau segar atau sudah di masak setengah matang.

  1. Hutan Payau Buka Kembali Nostalgia Jembatan Mesra

Oyek wisata Hutan Payau terletak di Desa Tritih Kecamatan Cilacap Utara. Hanya 15 menit dari kota Cilacap. Luas areal Hutan Payau 8 hektare berbentuk  L di tepi Bengawan Donan. Hutan Payau dulu hanya sebuah areal tanaman bakau saja. Mayoritas berjenis risopora.

JEMBATAN MESRA

Jembatan gantung yang membelah Hutan Payau

Obyek wisata ini pernah booming di tahun 1985. Saat itu oleh Munarjo, seorang pegawai Perhutani, tanaman bakau ditata sedemikian rupa sehingga  menjadi bagus. Setelah tumbuh bagus dan rapi, baru mulai ada yang datang di tahun 1988. Penanamannya sendiri tahun 1986-1987. Lalu pada saat itu ditambah  pula fasilitas jalan/jembatan gantung yang membelah rerimbunan hutan Payau. Karena banyak muda-mudi yang berkunjung ke tempat ini maka kemudian dikenal  dengan jembatan mesra. Hanya saja di penghujung tahun 1990 fasilitasnya mulai tidka terawat dan rusak. Akhirnya obyek wisata ini meredup.

Mulai tahun 2016 obyek wisata ini mulai ditata kembali. Saat ini sejumlah fasilitas mulai ditambah. Jalan setapak di plester, ada warung makan dan  jembatan gantung mulai di buat kembali. Hmm mengulang kembali nostalgia jembatan mesra. (EB-Utomo)

Comments

comments

Bagikan:
Kategori:Travel
Artikel Sebelumnya
Menikmati Wisata Pantai di Cilacap (bagian-1)
Artikel Selanjutnya
Membuat Surat Cinta Kembali Bermakna