15 49.0138 8.38624 1 1 4000 1 http://imagi.id 300 true

Membingkai Matahari di Puncak Bromo

Matahari di Puncak Bromo

Matahari akhirnya terbit di Puncak Bromo mencairkan udara dingin yang menusuk. “Aku mencoba membingkainya kawanku yang memotretnya,”

Menikmati matahari terbit dari puncak penanjakan, keindahan savana di antara bukit menghijau dan berfoto di pasir berbisik bersama kawan-kawan menjadikan kunjungan ke Bromo selalu membekas di hati. Traveler Lilik Sugiarti, guru dan ibu rumah tangga asal Wonosobo berbagi untuk Imagi.id

Kesepakatan rekan sekantor untuk berkunjung ke Bromo memang pilihan tepat. Akses yang terjangkau dan alam yang indah menjadi salah satu pertimbangannya. Memang harus mengeluarkan biaya ekstra. Karena menuju sebagian lokasi mesti ditempuh dengan sewa kendaraan 4wd. Seperti jeep, land cruiser maupun hartop. Namun bila berkunjung berkelompok sewanya masih terjangkau. Satu jeep bisa diisi enam orang dan biayanya bisa dibagi rata. Soal stok kendaraan sewa tidak usah khawatir, itu bertebaran di gerbang Bromo.

Vegetasi gunung bromo

Melihat keindahan vegetasi bromo berlatar belakang perbukitan ke tujuh sahabat ini berhenti. “‘Kita foto di sini’ teriak salah satu temanku. Tiga kamera ponsel pindah ke Haris, dia yang memotretnya. Tiga kali jepretan tiga pose berbeda. Salah satunya ini,”

Kita berkunjung di bulan Juni. Karena puncak kemarau menjadi pilihan terbaik menikmati Bromo. Bisa melihat sunrise tanpa terhalang mendung. Kita semua pekerja, maka ditetapkan hari libur untuk berkunjung. Tempat kerja kami saat itu masih memberlakukan lima hari kerja. Sepakat, Sabtu berangkat, Minggu di tempat wisata dan Senin pagi sudah balik di Wonosobo karena harus berangkat kerja.

Rombongan berangkat dari Wonosobo Sabtu pagi. Kita menargetkan sampai di Bromo tengah malam. Istirahat cukup di bus untuk menghemat biaya. Rombongan sampai di gerbang Bromo sekitar pukul 01.30 dini hari. Meski dini hari jangan berfikir sepi. Justru ini awal aktivitas di Bromo. Wisatawan yang menginap di hotel sudah mulai keluar, dan jeep-jeep mulai menjemut para wisatawan. Targetnya jelas menikmati matahari terbit ddi Puncak Bromo.

Keluar dari bus, udara dingin langsung menusuk tulang. Saya sarankan, jika di rumah tidurnya masih pakai ‘kemul’ tidak usah mencoba naik Bromo dengan celana pendek dan hanya memakai kaus tipis. Apalagi di musim kemarau saat Indonesia sedang sejuk-sejuknya, puncak Bromo tentu sedang dingin-dinginnya. Kami yang tinggal di Wonosobo dan terbiasa dengan udara sejuk harus melengkapi dengan tutup kepala dan jaket. Ini pun udara dingin masih terasa.

padang pasir gunung bromo

Di Pasir Berbisik ketujuh kawan ini mengambil gambar dengan beragam pose. “Saat melihat hasil jepretannya kita tertawa gembira”

Beberapa teman memilih menikmati segelas kopi panas, teh maupun jahe anget untuk mengusir dingin sembari menunggu jeep yang akan mengantar kami ke Puncak Penanjakan. Tempat untuk melihat matahari terbit dari puncak Bromo. Butuh waktu sekitar 30 menit naik jeep menuju kawasan Penanjakan. Setelah itu harus menaiki tangga dan setapak menuju puncaknya. Jalan yang dilalui lumayan terjal. Nafas rasanya mau putus.

Setelah berhenti berkali-kali akhirnya sampai juga di puncak Penanjakan. Di sini sudah banyak wisatawan yang beristirahat dan menunggu matahari terbit.

Rentang waktu tersisa kita pakai untuk istirahat sembari menikmati kopi, cemilan dan mi instan. Sampahnya kita simpan kembali di tas.

Savana gunung bromo

Sinar matahari pagi yang cerah, padang Savana di musim kemarau berpadu apik dengan bukit hijau dan langit biru. “Savana Bromo begitu indah. Membawa kami ke masa kecil. Serasa bebas”

Sekitar pukul 04.00 dini hari fajar mulai menguning di ujung cakrawala. Puncak Bromo samar mulai terlihat. Beberapa wisatawan mengambil kamera dan mengabadikan dalam gambar. Secara perlahan suasana mulai terang, asap putih mengepul dari kawah Bromo, langit mulai membiru dan matahari mulai terbit. Menggunakan kamera handphone tak terhitung gambar yang diambil. Dari pesona Bromo yang memukau.

Selepas dari puncak Bromo tujuan selanjutnya ada Padang Savana. Di sini mata dimanjakan dengan pesona padang rumput yang luas dengan punggung bukit hijau penuh rerumputan. Rasa lelah pun lepas. Pasir berbisik menjadi pilihan terakhir kami berkunjung ke Bromo. Disini kita bisa melihat pesona lautan pasir. Dari jauh lereng kalendra Bromo terlihat kokoh. (*)

Puncak Bromo

Asap putih mengepul dari Kawah Bromo. “Kuambil kamera ponselku. Beberapa jepretan mengabadikannya”

Comments

comments

Bagikan:
Kategori:Travel
Artikel Sebelumnya
Cantiknya Pemandangan Bukit Seroja di Wonosobo
Artikel Selanjutnya
7 Alasan Psikologis Seseorang Bisa Menyukai Kita Meski Wajah Kita Tidak Rupawan