Jelajah Kopi Kasmaran Banjarnegara

Imagi.id – Memandang bentang kebun kopi di Desa Kasmaran kental aroma cinta. Kasih para petani yang merawat tanaman kopi agar terus bertumbuh, menghijau, berbunga hingga biji kopi memerah matang sempurna.

Desa Kasmaran Kecamatan Pagentan terletak di ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl). Udaranya sejuk. Desa ini memiliki potensi kopi yang pantas disandingkan dengan daerah lain yang sudah lebih dulu terkenal.  Kelak, dari tempat ini harum dan buih kopi akan menyebar ke penjuru nusantara.

Di sebuah sore yang mendung, bertemu dengan pria tinggi kurus dan berkumis tebal. Nampak di tangannya sebuah cangkir kecil berisi seduhan kopi kental. Ia adalah Sugiman Sudarsono, pria berusia 41 tahun. Darso, demikan sapaan akrabnya, ia didapuk sebagai Ketua Kelompok Tani Kopi ‘Guyub Rukun’ Desa Kasmaran. Ia juga yang pertama membuat brand kopi dengan nama Kasmaran pula.

Ia bercerita tentang bagaimana kopi Kasmaran ini muncul ke permukaan. Diawali pada tahun 2013 silam, ia mencoba menanam sebanyak 500 batang pohon kopi di areal yang tak begitu luas. Ia menyebut, jenis kopinya Arabika, dengan varian kopi lokal unggul ‘Sigara Rutang’ asal Medan Sumatera Utara. “Berawal dari 500 batang saja, namun yang ditanam bibit kopi bersertifikat,” katanya, sambil sesekali menyesap kopi hitamnya.

Seorang pengunjung sedang memetik sendiri kopi kasmaran
Seorang pengunjung sedang memetik sendiri kopi kasmaran

Dua tahun menunggu, tahun 2015 mulai ada tanda-tanda berupa panen perdana, dimana saat itu ia bisa memanen hingga 1.2 ton kopi biji merah atau kopi cherry. Dengan rendemen air 1:8 hasil panen tersebut hanya didapat 150 kg kopi dalam bentuk green bean. Tahun itu, ia bingung tak bisa menjualnya hingga satu tahun lamanya.

Seiring berjalannya proses, ia berkesemptan hadir di even International Coffe Day di Banjarnegara. Di acara tersebut, kopinya ludes terjual, termasuk kopi yang merupakan panenan tahun 2016nya. ” Dari sinilah kami dikenalkan dengan dunia UMKM, dan membakar semangat kami, yang akhinya menular ke petani di wilayah kami,” sebutnya.

Ia tak mau diam, bersama warga sekitar dan petani lainnya menggelorakan semangat bertani kopi. Bahkan yang sebelumnya bertani cabai, salak dan jambu bergeser dan berubah menjadi petani kopi.

Segar kopi kasmaran Banjarnegara
Segar kopi kasmaran Banjarnegara

Sekarang di tahun 2018 ini, sedikitnya sudah ada 60 petani kopi, rata rata memiliki lahan setengah hektar, jika ditotal ada areal 30 hektar luasan lahan. Dengan jumlah sekitar 15.000 batang pohon kopi. “Saat ini sudah ada 15.000an batang pohon kopi, ada yang masih baru tanam, ada juga yang sudah produksi dan sudah panen. Dalam waktu dekat dari BI cabang Purwokerto juga ada bantuan 17.000 batang, dan dari Pemkab sekitar 30.000 batang,” sebutnya.

Dalam perhitungannya, pada tahun 2020 mendatang jika semua petani di wilayahnya panen secara bersama, setidaknya akan menghasilkan kopi dalam bentuk cherry sekitar 30 ton. Kopi yang terkenal pahit rasanya ini akan berbanding lurus dengan manisnya pengharapan para petani kopi di Desa Kasmaran ini.

Sampai saat ini, dirinya dan kelompok taninya sudah mampu memproduksi kopi dengan hasil serta kemasan yang layak jual. ia pun kini sudah memliki pasar tersendiri, selain pemilik kedai, juga masyarakat umum yang memburunya. “Kalau dulu kita bingung jualnya, kini pasar sudah mulai memburu produk kami. Harapan kami, kopi menjadi salah satu komoditas yang mampu meningkatkan kualitas hidup kami,” harapnya. (nugroho purbohandoyo)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *